LIVE
📢 BERITA TERKINI: "COMING SOON: Jadiviral.com | Segera Hadir! | Media Viral No. 1 di Indonesia!" "Sesuatu yang besar akan segera tiba... Jadiviral.com | Segera Launching! | Jadilah yang pertama tahu tren terbaru hari ini!" saat ini kami sedang uji coba website.
Wednesday, 29 July 2026

Jadiviral.com

Dunia dalam genggaman

HEADLINES

Di Balik Ritual 4 Abad: Kisah Ribuan Jiwa Menyatu dalam Sakralnya Seren Taun ke-447 Sinaresmi

Khay
05 July 2026 00:00
20 dilihat
Cisolok
Di Balik Ritual 4 Abad: Kisah Ribuan Jiwa Menyatu dalam Sakralnya Seren Taun ke-447 Sinaresmi

Sumber: Kampung Adat Kasepuhan Sinaresmi

JadiViral.con - Suara tabuhan dogdog lojor bertalu-talu memecah keheningan pagi di lereng perbukitan Cisolok. Alunan suling yang menyayat hati berpadu dengan petikan kecapi, mengantarkan lantunan kidung Pohaci yang sakral ke udara. 

 

Di bawah langit Minggu (5/7/2026), Kampung Adat Kasepuhan Sinaresmi, Desa Sirnaresmi, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi, mendadak berubah menjadi lautan manusia.

 

Ribuan orang dari berbagai penjuru daerah datang bukan sekadar untuk menonton, melainkan untuk menjadi saksi hidup dari sebuah kesetiaan adat yang telah melintasi waktu selama lebih dari empat abad Puncak Perayaan Seren Taun ke-447. 

 

Di tengah gempuran era digital dan modernisasi yang kian tak terbendung, waktu seolah berhenti di Sinaresmi. Ribuan pasang mata tampak terhipnotis dalam kekhidmatan ritual yang sarat makna. Mulai dari riuhnya suara tumbuk padi, kehangatan sarasehan bersama baris olot (para tetua kasepuhan), arak-arakan dongdang, hingga ketegangan seni debus, pertunjukan rengkong, gondang buhun, dan tari tani. Semua bergerak dalam satu harmoni yang sama.

 

Suasana mencapai puncak emosional dan kesakralan saat prosesi Ngampih Pare ka Leuit dimulai. Ribuan orang menahan napas saat Sesepuh Adat Kasepuhan Sinaresmi, Abah Asep Nugraha, melangkah dengan wibawa. Di tangannya, seikat padi hasil bumi digenggam erat, lalu dimasukkan secara simbolis ke dalam Leuit (lumbung padi) Si Jimat. 

 

Bagi masyarakat adat, ritual ini bukan sekadar memindahkan padi ke dalam lumbung. Ini adalah simbol penghormatan tertinggi terhadap padi sebagai sumber kehidupan, sekaligus pembuktian konkret tentang bagaimana sebuah komunitas mampu mandiri dan bertahan pangan secara berdaulat sejak ratusan tahun silam.

"Acara ini bukan hanya warisan, tetapi juga doa bersama agar masa depan penuh keberkahan," tutur Abah Asep Nugraha dengan tatapan mata yang dalam.

 

Bagi Abah Asep, mempertahankan tradisi hingga usia ke-447 tahun adalah sebuah perjuangan spiritual. Di tengah pesatnya teknologi, Seren Taun adalah pondasi yang mengingatkan manusia untuk tetap membumi, menjaga keselarasan dengan alam, dan tidak melupakan Sang Pencipta.

"Tradisi ini harus terus diwariskan kepada generasi penerus sebagai identitas dan pegangan hidup masyarakat adat," tegasnya penuh harap.

 

Kearifan lokal yang abadi ini turut memikat hati Bupati Sukabumi, Asep Japar, yang hadir langsung di tengah-tengah warga adat. Baginya, apa yang dilakukan oleh Kasepuhan Sinaresmi adalah sebuah teladan nyata yang menampar keras derasnya arus globalisasi.

"Seren Taun adalah wujud syukur atas limpahan hasil bumi sekaligus doa agar musim tanam berikutnya diberikan keberkahan," ujar Asep Japar terpukau.

 

Asep menilai, kebiasaan masyarakat adat menyimpan padi di leuit adalah sistem ketahanan pangan terbaik yang bertahan melintasi zaman. Budaya gotong royong dan kepedulian mereka terhadap alam terbukti menjadi benteng pertahanan yang kokoh.

 

Oleh karena itu, Bupati Asep Japar menegaskan, Pemerintah Kabupaten Sukabumi berkomitmen penuh untuk terus mendukung pelestarian adat ini, termasuk memperbaiki infrastruktur di kawasan kasepuhan demi kesejahteraan warga.

 

Di akhir kekhidmatan acara, sebuah pesan penting ditiupkan kepada angin perbukitan Cisolok, ditujukan khusus untuk para incu putu (anak cucu/generasi muda) Kasepuhan. Di era di mana ponsel pintar mengontrol segalanya, generasi muda diingatkan untuk tidak melupakan akar rumput tempat mereka tumbuh.

"Warisan budaya ini harus terus dijaga dan dilestarikan agar tidak tergerus perkembangan zaman. Generasi muda memiliki peran penting untuk meneruskan nilai-nilai luhur yang terkandung dalam Seren Taun," pungkas Bupati Sukabumi.

 

Saat matahari mulai tergelincir di ufuk barat, wewangian padi kering dan gemerisik daun-daun di Sinaresmi menyisakan satu pesan mendalam bagi ribuan orang yang pulang: *bahwa menjaga alam adalah cara terbaik untuk menjaga kehidupan itu sendiri.

 

Tags:

#HEADLINES #Viral #BeritaTerkini